Jejak Nan Sarunai: Akar Sejarah Dayak Ngaju di Tanah Kapuas
Menelusuri jejak Kerajaan Nan Sarunai dan budaya Dayak Ngaju di Kualakapuas, ibu kota Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, yang dilalui Sungai Kapuas.
Ringkasan Cepat
- Kualakapuas adalah ibu kota Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, yang dilalui Sungai Kapuas.
- Sungai Kapuas menjadi tulang punggung perekonomian daerah dan jalur transportasi tradisional.
- Kualakapuas berperan sebagai kota satelit bagi Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
- Perjalanan ke Banjarmasin kini dapat ditempuh lewat jalan darat via Jembatan Barito dan Jembatan Pulau Petak, jarak 46 km.
- Dayak Ngaju adalah kelompok etnis dominan di wilayah Kapuas dengan tradisi lisan tentang Kerajaan Nan Sarunai.
Sungai yang Menyimpan Cerita
Dari atas Jembatan Pulau Petak, air Sungai Kapuas bergerak lambat menuju muara. Di tepiannya, Kualakapuas tumbuh sebagai kota kecil yang sibuk. Rumah-rumah panggung berbaris menghadap sungai, perahu klotok lalu lalang membawa hasil kebun dan ikan. Bagi orang Dayak Ngaju, sungai bukan sekadar jalur ekonomi. Ia adalah urat nadi yang menghubungkan kampung-kampung hulu dengan dunia luar. Di sepanjang aliran inilah cerita tentang Nan Sarunai diwariskan dari generasi ke generasi, bukan lewat prasasti, melainkan lewat tutur dan ingatan kolektif.
Kualakapuas sendiri adalah ibu kota Kabupaten Kapuas. Posisinya sebagai kota satelit Banjarmasin membuat denyut kehidupannya terikat pada kota besar di selatan. Dahulu, orang menempuh perjalanan ke Banjarmasin dengan menyusuri Sungai Kapuas lalu masuk Sungai Barito. Sekarang, jalan darat lewat Jembatan Barito dan Jembatan Pulau Petak memangkas jarak menjadi sekitar 46 km. Perubahan akses ini mengubah wajah kota, tetapi tidak menghapus lapisan sejarah yang lebih tua di bawahnya.
Nan Sarunai dalam Ingatan Dayak Ngaju
Nan Sarunai bukan nama yang muncul di buku pelajaran sekolah. Ia hidup di ruang lain: dalam nyanyian, dalam cerita rakyat, dalam sebutan para tetua. Bagi banyak orang Dayak Ngaju, Nan Sarunai merujuk pada masa ketika leluhur mereka hidup dalam tatanan yang lebih besar dari sekadar kampung. Ada yang menyebutnya kerajaan, ada pula yang memahaminya sebagai jaringan permukiman tua di hulu sungai. Perbedaan tafsir ini wajar. Sejarah lisan tidak menuntut keseragaman, ia menuntut kesetiaan pada apa yang diwariskan.
Yang penting, Nan Sarunai menjadi penanda identitas. Ia mengingatkan orang Dayak Ngaju bahwa mereka punya akar panjang di tanah Kapuas, jauh sebelum kota ini menjadi pusat administrasi. Identitas itu tidak hanya soal masa lalu. Ia hadir dalam cara orang menata rumah, membuka ladang, dan menjaga hubungan dengan sungai. Penamaan Nan Sarunai pada berbagai kegiatan budaya di Kalimantan Tengah menunjukkan bahwa warisan ini masih dirawat, meski bentuknya berubah mengikuti zaman.
Budaya yang Tetap Mengalir
Di Kualakapuas, budaya Dayak Ngaju tidak dipajang sebagai benda mati. Ia hidup dalam praktik sehari-hari. Bahasa Ngaju masih terdengar di pasar, di dermaga, di warung kopi tepi sungai. Rumah betang, meski tidak lagi sebanyak dulu, tetap menjadi rujukan bentuk hunian komunal. Upacara adat seperti tiwah, yang berkaitan dengan penghormatan kepada leluhur, masih dijalankan di beberapa kampung meski dengan penyesuaian.
Kehidupan ekonomi kota ini bertumpu pada sungai dan daratan. Perdagangan hasil bumi, perikanan, dan angkutan sungai menjadi denyut utama. Sejak jalan darat terbuka, mobilitas orang dan barang makin cepat. Barang dari Banjarmasin masuk lebih mudah, begitu pula sebaliknya. Namun, bagi banyak warga, sungai tetap punya tempat khusus. Ia bukan hanya jalur, tetapi ruang sosial tempat orang bertemu, bercerita, dan mengingat asal-usul.
Merenungkan Nan Sarunai di Kualakapuas hari ini berarti mengakui bahwa sejarah tidak selalu tersimpan rapi di arsip. Kadang ia justru hidup dalam kebiasaan kecil: cara orang menyapa, cara mereka menghormati sungai, cara mereka menyebut nama leluhur. Di tengah arus modernisasi, jejak itu tetap ada, mengalir pelan seperti Sungai Kapuas yang tidak pernah berhenti.
Pertanyaan yang Sering Muncul
Apa itu Kerajaan Nan Sarunai?
Nan Sarunai adalah nama yang dalam tradisi lisan Dayak Ngaju merujuk pada masa kerajaan atau jaringan permukiman tua leluhur mereka di wilayah Kapuas. Ia lebih banyak hidup dalam cerita rakyat dan nyanyian daripada dalam catatan prasasti.
Di mana letak Kualakapuas?
Kualakapuas adalah ibu kota Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. Kota ini dilalui Sungai Kapuas dan berperan sebagai kota satelit bagi Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
Bagaimana akses ke Kualakapuas sekarang?
Perjalanan dari Kualakapuas ke Banjarmasin kini dapat ditempuh lewat jalan darat melalui Jembatan Barito dan Jembatan Pulau Petak, dengan jarak sekitar 46 km. Sebelumnya, perjalanan dilakukan lewat sungai.
Apakah budaya Dayak Ngaju masih terlihat di Kualakapuas?
Ya. Bahasa Ngaju masih digunakan dalam percakapan sehari-hari, rumah betang masih menjadi rujukan hunian komunal, dan upacara adat seperti tiwah masih dijalankan di beberapa kampung.