Rotan dan Purun: Anyaman Tangan Pengrajin Kuala Kapuas
Anyaman rotan dan purun menjadi nadi kerajinan tangan pengrajin Kuala Kapuas, ibu kota Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, yang tumbuh di tepi Sungai Kapuas.

Ringkasan Cepat
- Kuala Kapuas adalah ibu kota Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, yang dilalui Sungai Kapuas.
- Sungai Kapuas menjadi tulang punggung perekonomian daerah, termasuk untuk bahan baku kerajinan.
- Kuala Kapuas berperan sebagai kota satelit bagi Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
- Jarak Kuala Kapuas ke Banjarmasin sekitar 46 km melalui Jembatan Barito dan Jembatan Pulau Petak.
- Rotan dan purun diolah menjadi anyaman tangan oleh pengrajin lokal di kawasan tepian sungai.
Tangan-Tangan di Tepi Sungai Kapuas
Pagi di tepian Sungai Kapuas, Kuala Kapuas, tidak dimulai dengan suara mesin pabrik. Yang terdengar adalah gesekan bilah rotan saat dikupas, dipilin, dan dijalin menjadi bentuk. Di kota yang menjadi ibu kota Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah ini, anyaman bukan sekadar pekerjaan sambilan. Sungai Kapuas yang membelah kota adalah tulang punggung perekonomian daerah, dan dari aliran itulah bahan baku serta denyut usaha kerajinan tangan bertahan.
Rotan tumbuh di hutan-hutan sekitar Kapuas. Batangnya panjang, lentur, dan kuat, cocok untuk kursi, keranjang, hingga perabot rumah. Purun, sejenis tumbuhan rawa berdaun panjang, diolah menjadi tikar, topi, dan tas. Keduanya dikerjakan dengan tangan, bukan mesin besar. Prosesnya lama: rotan dibersihkan, dijemur, lalu dianyam mengikuti pola yang diwarisi dari generasi sebelumnya.
Kuala Kapuas sendiri dikenal sebagai kota satelit bagi Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Dulu, perjalanan ke Banjarmasin harus melewati Sungai Kapuas dan Barito. Kini, jalan darat melalui Jembatan Barito dan Jembatan Pulau Petak memangkas jarak menjadi sekitar 46 km. Akses yang lebih mudah membuat anyaman Kuala Kapuas bisa lebih cepat sampai ke pasar yang lebih luas.
Dari Rawa dan Hutan ke Pasar
Purun tumbuh di lahan rawa yang banyak ditemui di sekitar Kapuas. Petani purun memanennya secara musiman, menjemurnya hingga kering, lalu menjualnya ke pengrajin. Rotan datang dari hutan sekitar, dibawa melalui sungai atau jalan darat. Rantai pasok ini sederhana, tetapi menopang banyak keluarga di Kuala Kapuas.
Pengrajin biasanya bekerja dari rumah atau bengkel kecil di halaman. Ibu-ibu menganyam purun sambil mengurus rumah, sementara bapak-bapak mengerjakan rotan yang butuh tenaga lebih. Hasilnya dijual ke toko-toko lokal, pasar tradisional, atau dipesan langsung oleh pembeli dari luar daerah. Harganya relatif terjangkau, bergantung ukuran dan tingkat kesulitan pola.
Tantangan utama bukan hanya bahan baku yang makin sulit didapat, tetapi juga regenerasi. Kaum muda cenderung memilih pekerjaan lain yang dianggap lebih cepat menghasilkan. Padahal, anyaman rotan dan purun adalah identitas yang membedakan Kuala Kapuas dari kota lain di Kalimantan Tengah.
Bertahan di Tengah Perubahan
Kerajinan anyaman di Kuala Kapuas tidak mati, tetapi beradaptasi. Beberapa pengrajin mulai menerima pesanan custom, membuat tas dengan desain lebih modern, atau memadukan rotan dengan kain. Penjualan juga merambah ke pasar daring, meski tidak semua pengrajin melek teknologi. Peran keluarga dan komunitas tetap penting untuk berbagi pesanan dan bahan.
Dukungan dari pemerintah daerah dan pelatihan keterampilan sesekali muncul, tetapi keberlanjutan usaha lebih banyak bergantung pada pasar dan semangat pengrajin sendiri. Sungai Kapuas yang menjadi nadi ekonomi kota juga menjadi pengingat: selama ada bahan dan tangan yang mau bekerja, anyaman Kuala Kapuas punya tempat di pasar.
Bagi wisatawan yang melintas dari Banjarmasin melalui Jembatan Barito, mampir ke Kuala Kapuas berarti bisa melihat langsung proses menganyam. Membeli satu keranjang rotan atau tikar purun bukan hanya soal suvenir, tetapi ikut menjaga keterampilan yang diwariskan dari tepi sungai.
Tonton Video
Pertanyaan yang Sering Muncul
Apa itu purun dan dari mana asalnya?
Purun adalah tumbuhan rawa berdaun panjang yang tumbuh di lahan basah sekitar Kuala Kapuas, Kabupaten Kapuas. Daunnya dijemur dan dianyam menjadi tikar, topi, atau tas oleh pengrajin lokal.
Bagaimana cara mencapai Kuala Kapuas dari Banjarmasin?
Perjalanan darat melalui Jembatan Barito dan Jembatan Pulau Petak menempuh jarak sekitar 46 km. Dulu perjalanan dilakukan lewat Sungai Kapuas dan Barito.
Apakah anyaman rotan dan purun bisa dibeli langsung di Kuala Kapuas?
Bisa. Pengrajin menjual hasil anyaman di rumah, bengkel kecil, pasar tradisional, dan toko lokal. Beberapa juga menerima pesanan langsung atau melalui pasar daring.
Mengapa kerajinan anyaman penting bagi Kuala Kapuas?
Anyaman rotan dan purun menopang ekonomi keluarga di tepi Sungai Kapuas dan menjadi identitas kerajinan khas daerah, meski menghadapi tantangan regenerasi pengrajin.